Wahabi Indonesia

Peta Wahabi di Indonesia.


sejarah wahabi indonesia

Memberikan kata pengantar untuk buku Terorisme: Fundamentalis Kristen, Yahudi, Islam (Kompas, 2009) tulisan A.M. Hendropriyono, Zuhairi Misrawi, seorang anggota Nahdlatul Ulama yang menjadi ketua Moderate Muslim Society, mengetengahkan sebuah peta tentang Wahabi di Indonesia. Peta yang dimaksud itu adalah hasil pemetaan sikap atas dakwah Muhammad bin Abdil Wahhab di Indonesia.

Dan, memang, dalam merespon dakwah tersebut, orang-orang di Indonesia terbagi-bagi menjadi beberapa kelompok. Masing-masing mereka memiliki ciri khas yang membedakan dengan yang lain.

Kelompok pertama adalah orang-orang yang menerima dakwah Muhammad bin Abdil Wahhab, namun melakukan usaha modifikasi, baik sedikit, separuhnya, atau sebagian besarnya. Di antara mereka, bahkan, ada pula yang hanya mengambil ruh semangatnya tanpa perlu konsisten dalam menerapkan pesan dakwah tersebut.


Kelompok kedua adalah orang-orang yang merespon positif dakwah tersebut dan menerima secara bulat tanpa usaha memodifikasinya. Mereka menerima dakwah dan berusaha menyebarkannya di lingkungan-lingkungan mereka.


Kelompok ketiga adalah orang-orang yang menolak mentah-mentah dakwah tersebut. Bagi mereka, dakwah yang diserukan oleh Muhammad bin Abdil Wahhab itu tidak sesuai dengan karakter masyarakat Indonesia yang sudah memiliki tradisi keislaman tersendiri dari dulu. Dakwah tersebut tidak cocok, karena itu mereka tolak secara mutlak.


Dua kelompok pertama, di tengah masyarakat kita, kerap disebut sebagai orang-orang Wahabi. Terlepas dari mereka suka atau tidak penamaan tersebut, media-media dan sejumlah pengamat dari luar atau dalam negeri tetap menamai mereka dengan sebutan itu. Karena itu, tiap kali media mengangkat atau menyinggung kelompok Wahabi dalam pemberitaan, selalu yang dimaksud adalah salah satu kelompok dalam dua kelompok tersebut.


Kelompok Pertama: Neo-Wahabi


Ciri utama mereka adalah modifikasi pesan dakwah Muhammad bin Abdil Wahhab. Nur Khalik Ridwan mengidentifikasi kelompok ini dalam trilogi karyanya tentang gerakan Wahabi. Dalam buku pertama, Doktrin Wahhabi dan Benih-Benih Radikalisme Islam (Tanah Air, 2009), ia menyinggung keberadaan kelompok ini sebagai kelompok yang terpengaruh—baik sebagian atau lebih, namun tidak semua—oleh ajaran-ajaran Muhammad bin Abdil Wahhab. Olehnya, kelompok yang seperti ini disebut sebagai neo-Wahabi.

Menurut Ridwan, organisasi masyarakat pertama di Indonesia yang masuk dalam kategori kelompok neo-Wahabi adalah Muhammadiyah dan Persatuan Islam (Persis). Kedua organisasi ini bertahan sebagai kelompok neo-Wahabi sampai muncul gelombang baru neo-Wahabi pada tahun 1980-an.

Kelompok-kelompok neo-Wahabi yang baru mulai bermunculan sepanjang dekade 1980-an dan 1990-an sebagai buah program-program yang dilakukan (DDII) yang dimulai pada dekade 1970-an. Kemunculan mereka bermula dari ketidakpuasan mereka terhadap keberadaan Muhammadiyah dan Persis yang kurang konsisten terhadap Quran dan Sunnah.

Di antara kelompok baru neo-Wahabi yang dimaksud Ridwan adalah kelompok tarbiyah yang kemudian berubah menjadi (PKS) dan NII (HTI). PKS memiliki hubungan ideologis dengan Ikhwanul Muslimin di Mesir, sedangkan HTI memiliki hubungan historis dengan Ikhwanul Muslimin. Baik PKS atau pun HTI, masing-masing menempuh jalur politik untuk mencapai tujuan mereka. Cita-cita mereka adalah memformalisasikan syariat Islam di dalam negara.

Termasuk yang disinggung oleh Nur Khalik Ridwan sebagai kelompok neo-Wahabi adalah kelompok yang sering disebut sebagai Salafi jihadi. Mereka adalah orang-orang yang berada dalam lingkaran Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Baasyir serta murid-murid mereka berdua.
Dikenal sebagai orang-orang yang menyempal dari kelompok, dua orang itu menghindari tekanan pemerintah Indonesia dengan cara kabur ke Malaysia pada pertengahan 1980-an. Di Johor Bahru, mereka kemudian membangun basis dakwah baru. Usaha mereka ini ternyata berkembang seiring dengan pecahnya Perang Afganistan.

Pesantren mereka di Johor Bahru menjadi tempat transit bagi calon-calon relawan untuk Perang Afganistan dari Pesantren Al-Mukmin, Ngruki, Sukoharjo dan sejumlah kader NII. Tidak hanya itu, sejumlah relawan untuk perang di Afganistan yang berasal dari Indonesia dan Malaysia ikut dalam usaha pengiriman itu. Dari arena perang di Afganistan itulah, muncul orang-orang yang kelak akan dikenal lewat sebutan alumni Afganistan.


Ternyata, tidak semua alumni Afganistan bergabung dalam lingkaran Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Baasyir. Sebagian kecil mereka, kembali membaur dalam masyarakat. Di antara mereka yang sedikit ini, terdapat sejumlah orang yang menolak dengan tegas cara-cara berdakwah gaya Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Baasyir.


Menurut mereka, Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Baasyir adalah orang-orang Khawarij tulen yang mengafirkan orang-orang di luar mereka—termasuk pemerintah Indonesia—dan menyebarkan kebencian terhadap pihak penguasa di Indonesia. Bahkan, dapat dikatakan, aksi-aksi terorisme di Indonesia 13 tahun belakangan ini berasal dari lingkaran Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Baasyir serta alumni-alumni Afganistan yang bergabung dengan mereka. Kurang dari 20 tahun, lingkaran itu telah merekrut anggota-anggota baru dan menebar teror di tengah masyarakat kita.

Kelompok Kedua: Wahabi Tulen


Meski secara sepintas tidak termasuk ke dalam kelompok neo-Wahabi, Nur Khalik Ridwan dengan jeli memasukkan kelompok-kelompok yang merujuk kepada Yayasan Al-Muntada di London dan Jam’iyyah Ihya At-Turats Al-Islamiyah di Kuwait ke dalam kelompok baru neo-Wahabi.

Yayasan Al-Muntada di London didirikan oleh Muhammad bin Surur bin Nayef Zainal Abidin. Ia pernah tinggal di Arab Saudi. Semula, ia adalah seorang anggota Ikhwanul Muslimin, lalu keluar dan mengaku sebagai Salafi. Ia, oleh Nur Khalik Ridwan, disebut sebagai sempalan Ikhwanul Muslimin.

Yayasan ini memiliki cabang di Indonesia. Cabang di Jakarta bernama Yayasan As-Shafwah yang dipimpin oleh Abu Bakar M. Altway. Cabang yang lain adalah Yayasan Al-Haramain.

Yayasan Al-Haramain sendiri memiliki dai-dai yang tersebar di sebagian besar wilayah Indonesia. Di antara mereka yang terkenal adalah Abdul Hakim Abdat di Jakarta, Yazid bin Abdil Qadir Jawwas di Bogor, Ainul Harits di Jawa Timur dan Abu Haidar di Bandung.

Seperti Yayasan Al-Muntada, Jam’iyyah Ihya At-Turats Al-Islamiyah di Kuwait didirikan oleh Abdurrahman Abdul Khaliq. Ia, sebagaimana dikatakan Nur Khalik Ridwan, adalah seorang sempalan Ikhwanul Muslimin juga.
Di Indonesia, Jam’iyyah Ihya At-Turats Al-Islamiyah juga memiliki cabang. Mereka mendirikan pesantren-pesantren yang tersebar di Jawa, seperti Ma’had Jamilurrahman dan Islamic Centre Bin Baaz di Yogyakarta, Ma’had Al-Furqan di Gresik dan Ma’had Imam Bukhari di Solo.

Mereka yang dimaksud mengaku diri sebagai Salafi dan mendakwahkan mazhab salafiyah. Dilihat dengan mata telanjang, penampilan mereka tidak jauh berbeda dengan komunitas Salafi di Indonesia. Meski demikian, di tengah komunitas Salafi, orang-orang yang berafiliasi dengan dua yayasan di London dan Kuwait itu serta orang-orang yang berada dalam lingkaran dai dan lembaga pendidikan mereka di seluruh Indonesia disebut dengan istilah Sururi.

Lantas, siapa yang dimaksud dengan Wahabi tulen di Indonesia? Dengan mengutip Abu Abdirrahman Ath-Thalibi yang menulis Dakwah Salaf Dakwah Bijak, kelompok yang diidentifikasi Nur Khalik Ridwan sebagai kelompok Wahabi tulen di Indonesia adalah mereka yang disebut dengan Salafi Yamani.

Dikatakan Salafi Yamani, karena mereka merujuk kepada syaikh-syaikh Salafi yang ada di Yaman dan di Timur-Tengah. Salah seorang syaikh mereka yang terkenal di Yaman adalah Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i.

Syaikh yang dimaksud memimpin Ma’had Darul Hadits di daerah Dammaj, Sha’dah, Yaman. Banyak dai-dai Salafi Yamani yang belajar di Ma’had Darul Hadits sampai hari ini, meskipun syaikh yang bersangkutan telah meninggal dunia beberapa tahun yang lalu.

Pada waktu terjadi konflik beragama di Ambon, Maluku, kelompok Salafi Yamani ini pernah mendirikan Forum Komunikasi Ahlus Sunnah wal Jamaah (FKAWJ). FKAWJ menaungi Laskar Jihad di Indonesia yang akan dikirim ke wilayah konflik di Ambon dan juga di Poso, Sulawesi.

Laskar Jihad yang dipanglimai oleh Ja’far Umar Thalib dipulangkan setelah pembubaran FKAWJ. Pembubaran yang dimaksud didorong oleh munculnya fatwa-fatwa syaikh Salafi di Arab Saudi, menyusul berbagai penyimpangan yang terjadi dalam Laskar Jihad dan pada diri Ja’far Umar Thalib. Sejak saat itu, Ja’far Umar Thalib memusuhi kelompok Salafi Yamani dan membelot dari mereka.

Kelompok Salafi Yamani sendiri, setelah pembubaran FKAWJ, mengembalikan seluruh fokus aktifitas mereka di sejumlah pesantren dan masjid di berbagai daerah di Indonesia. Berbeda dari sebelum pembubaran itu, mereka sekarang berkembang ke hampir tiap propinsi di Indonesia. Di kota-kota besar Indonesia, dakwah mereka dapat kita temui dengan mudah.[]

Kesamaan antara kelompok Wahabi dengan golongan Khawarij


Tidak semua kelompok Wahaby (Salafy gadungan) rela jika disebut Wahaby, walaupun mereka semua sepakat untuk menjadikan Muhammad bin Abdul Wahab sebagai tempat rujukan dan pemimpin. Hanya beberapa gelintir orang Wahaby saja yang rela jika dirinya disebut sebagai Wahaby. Selain sebutan Wahaby memiliki konotasi negatif berupa panggilan celaan, mereka juga bersikeras untuk disebut sebagai kelompok Salafy –sebagai pengganti sebutan Wahaby- agar terhindar dari sebutan negative tadi dan supaya mendapat tempat di sisi golongan Ahlusunah wal Jamaah. Padahal jika kita teliti lebih dalam lagi niscaya akan kita dapati bahwa ajaran dan prilaku mereka sama sekali tidak mencerminkan ajaran dan keyakinan para Salaf Saleh sebagai pendiri Ahlusunah. Akan tetapi ajaran dan prilaku kaum Wahaby lebih cocok jika disandingkan dan disejajarkan dengan kaum Khawarij yang telah dikutuk dalam lembaran sejarah kaum muslimin. Hal itu dikarenakan Rasul sendiri pun telah mencela mereka. Dan pada kenyataannya, terbukti sebagian orang telah menyamakan kaum Wahabi (Salafi) dengan kelompok Khawarij dengan melihat beberapa kesamaan yang ada.

Melihat dari sejarah yang pernah ada, kelompok Khawarij adalah kelompok yang sangat mirip sepak terjang dan pemikirannya dengan kelompok Wahabi sekarang ini. Oleh karenanya, bisa dikatakan bahwa kelompok Wahabi adalah pengejawantahan dan kelanjutan dari kelompok Khawarij di masa sekarang ini. Secara global dapat disebutkan beberapa sisi-sisi kesamaan antara kelompok sesat Wahabi dengan golongan Khawarij yang dicela oleh Rasulullah saw.
Rasul pernah memberi julukan golongan sesat (Khawarij) tersebut dengan sebutan “Mariqiin”, yang berarti “lepas” dari Islam sebagaimana lepasnya anak panah dari busurnya.[Lihat: Musnad Imam Ahmad bin Hanbal jilid :2 halaman:118] Sedikitnya terdapat enam sisi-sisi kesamaan antara dua golongan ini yang tentu meniscayakan vonis hukuman dan konsekuensi yang sama pula. Adapun enam sisi kesamaan tadi mencakup:

Pertama: Sebagaimana kelompok Khawarij dengan mudah menuduh seorang muslim dengan sebutan kafir, kelompok Wahabi pun sangat mudah menuduh seorang muslim sebagai pelaku syirik, bid’ah, khurafat dan takhayul yang semua itu adalah ‘kata halus’ dari pengkafiran (Takfir), walaupun dalam beberapa hal sebutan-sebutan itu memiliki kesamaan dengan kekafiran itu sendiri jika dilihat dari konsekwensi hukumnya. Oleh karena itu, kaum Wahaby juga layak dijuluki dengan sebutan Jama’ah Takfiriyah (kelompok pengkafiran), suka dan hoby menyasatkan dan mengkafirkan kelompok muslim lain selain kelompoknya. Mereka (Wahaby dan Khawarij) sama-sama merasa hanya ajarannya saja yang benar-benar murni dan betul. Abdullah bin Umar dalam mensifati kelompok Khawarij mengatakan: “Mereka menggunakan ayat-ayat yang diturunkan bagi orang-orang kafir lantas mereka terapkan untuk menyerang orang-orang beriman”.[Lihat: kitab Sohih Bukhari jilid:4 halaman:197] Ciri-ciri semacam itu juga akan dengan mudah kita dapati pada pengikut kelompok Salafi palsu (Wahabi) berkaitan dengan saudara-saudaranya sesama muslim. Bisa dilihat, betapa mudahnya para rohaniawan Wahabi (Muthowi’) menuduh para jamaah haji -tamu-tamu Allah (Dhuyuf ar-Rahman)- sebagai pelaku syirik dan bid’ah dalam melakukan amalan yang dianggap tidak sesuai dengan akidah dan keyakinan mereka. Padahal semua orang muslim datang menuju Baitullah Ka’bah dengan tetap meyakini bahwa “tiada tuhan melainkan Allah swt dan Muhammad saw adalah utusan Allah swt”.

Kedua: Sebagaimana kelompok Khawarij telah disifati dengan “Pembantai kaum muslim dan perahmat bagi kaum kafir (non-muslim)”, hal itu sebagaimana yang tercantum dalam hadis Nabi: “Mereka membunuh pemeluk Islam, sedang para penyembah berhala mereka biarkan”,[Lihat: kitab Majmu’ah al-Fatawa karya Ibnu Taimiyah Jilid: 13 halaman: 32] maka sejarah telah membuktikan bahwa kelompok Wahabi pun telah melaksanakan prilaku keji tersebut, terkhusus di awal-awal penyebarannya. Sebagaimana yang tercatat dalam kitab-kitab sejarah berupa pembantaian beberapa kabilah Arab muslim yang menolak ajaran sesat Wahabisme. Hal itu pernah dilakukan pada awal penyebaran Wahabisme oleh pendirinya, Muhammad bin Abdul Wahab an-Najdi. Ia dengan dukungan Muhammad bin Saud -amir wilayah Uyainah- yang mendapat bantuan penuh pasukan kolonialis Inggris yang kafir sehingga akhirnya dapat menaklukkan berbagai wilayah di dataran Arabia. Pembantaian berbagai kabilah dari kaum muslimin mereka lakukan di beberapa tempat, terkhusus di wilayah Hijaz (sekarang Arab Saudi) dan Irak kala itu, dikarenakan penolakan mereka atas ajaran sesat Muhammad bin Abdul Wahab.

Ketiga: Sebagaimana kelompok Khawarij memiliki banyak keyakinan yang aneh dan keluar dari kesepakatan kaum muslimin seperti keyakinan bahwa pelaku dosa besar dihukumi kafir yang darahnya halal, kaum Wahabi pun memiliki kekhususan yang sama. Mereka menuduh kaum muslim yang berziarah kubur Rasulullah dengan sebutan syirik, bid’ah, khurafat dan takhayul yang semua itu sama dengan pengkafiran terhadap kelompok-kelompok tadi.

Keempat: Sebagaimana kelompok Khawarij memiliki jiwa Jumud (kaku), mempersulit diri dan mempersempit luang lingkup pemahaman ajaran agama, maka kaum Wahabi pun mempunyai kendala yang sama. Banyak hal mereka anggap bid’ah dan syirik namun dalam penentuannya mereka tidak memiliki tolok ukur yang jelas dan kuat, bahkan mereka tidak berani untuk mempertanggungjawabkan tuduhannya tersebut dengan berdiskusi terbuka dengan kelompok-kelompok yang dianggapnya sesat. Kita dapat lihat, blog-blog dan situs-situs kelompok Wahaby tidak pernah ada forum diskusi terbuka. Sewaktu jamaah haji pergi ke tanah suci tidak diperkenankan membawa buku-buku agama dan atau buku tuntunan haji melainkan yang sesuai dengan ajaran mereka. sementara di sisi lain, mereka menggalakkan dakwah dan penyebaran akidahnya melalui berbagai sarana yang ada –seperti penyebaran buku, brosur, kaset dan sebagainya- kepada para jamaah haji yang Ahlusunah. Ini merupakan bentuk dari pemerkosaan akidah Wahaby dan perampokan keyakinan Ahlusunah wal Jamaah.

Kelima: Sebagaimana kelompok Khawarij telah keluar dari Islam dikarenakan ajaran-ajarannya yang telah menyimpang dari agama Islam yang dibawa oleh Muhammad Rasulullah saw, Wahabi pun memiliki penyimpangan yang sama sehingga keislaman mereka pun layak untuk diragukan. Pengkafiran kelompok lain yang selama ini dilakukan oleh kaum Wahaby cukup menjadi bukti konkrit untuk meragukan keislaman mereka. karena dalam banyak riwayat disebutkan bahwa barangsiapa yang mengkafirkan seorang muslim maka ia sendiri yang terkena pengkafiran tersebut. Dalam sebuah hadis tentang Khawarij yang diriwayatkan oleh Bukhari dalam kitab Shahih-nya, yang dapat pula diterapkan pada kelompok Wahabi dimana Rasul bersabda: “Beberapa orang akan muncul dari belahan Bumi sebelah timur. Mereka membaca al-Quran, tetapi (bacaan tadi) tidak melebihi batas tenggorokan. Mereka telah keluar dari agama (Islam) sebagaimana terkeluarnya (lepas) anak panah dari busurnya. Tanda-tanda mereka, suka mencukur habis rambut kepala”.[Lihat: kitab Shahih Bukhari, kitab at-Tauhid Bab:57 Hadis ke-7123] Al-Qistholani dalam mensyarahi hadis tadi mengatakan: “Dari belahan bumi sebelah timur” yaitu dari arah timur kota Madinah semisal daerah Najd. [Lihat: kitab Irsyad as-Saari Jil:15 Hal:626] Sedang dalam satu hadis lain disebutkan, dalam menjawab perihal kota an-Najd: “Di sana terdapat berbagai goncangan, dan dari sana pula muncul banyak fitnah”. [Lihat: kitab Musnad Ahmad bin Hanbal jilid: 2 halaman:81 atau jilid: 4 halaman: 5] Atau dalam ungkapan lain yang menyebutkan: “Disana akan muncul qorn setan”. Dalam kamus bahasa Arab, kata “qorn” berartikan umat, pengikut ajaran seseorang, kaum atau kekuasaan. [ Lihat: kitab Al-Qomuus jilid:3 halaman:382, asal kata: qo-ro-na] Sedang kita tahu bahwa kota Najd adalah tempat lahir dan tinggal Muhammad bin Abdul Wahab an-Najdi, pendiri Wahabisme. Selain kota itu sekaligus sebagai pusat Wahabisme dan dari situ pulalah pemikiran Wahabisme disebarluaskan dan diekspor ke segala penjuru dunia, termasuk Indonesia. Dari semua hadis tadi dapat diambil benang merah bahwa di kota Najd-lah tempat munculnya pengikut ajaran Setan –dimana setan ini terkadang dari golongan jin ataupun dari golongan manusia, sedang yang dimaksud di sini adalah as-Syaithonul-Ins atau setan dari golongan manusia- yang bernama Muhammad bin Abdul Wahab dimana kelompok tersebut kemudian lebih dikenal dengan sebutan Wahaby atay Salafy sebagai klaim kosongnya (Salafy palsu). Banyak tanda zahir dari kelompok tersebut. Selain mengenakan celana, gamis atau sarung hingga betis, suka mencukur pendek rambut kepala sedangkan jenggot dibiarkan bergelayutan tidak karuan adalah salah satu ciri-ciri zahir pengikut kelompok ini. Tanda-tanda yang lebih nampak lagi ialah, mereka sangat lancar dan fasih sewaktu menuduh kelompok selainnya dengan sebutan pelaku syirik, bid’ah, khurafat dan takhayul.

Keenam: Sebagaimana kelompok Khawarij meyakini bahwa “negara muslim” (Daar al-Salam) jika penduduknya banyak melakukan maksiat dan dosa besar maka mereka kategorikan sebagai “negara zona perang” (Daar al-Harb). Karena menurut mereka dengan banyaknya perbuatan maksiat tadi maka berarti penduduk muslim tadi telah keluar dari agama Islam (kafir). Kelompok radikal Wahabi pun meyakini hal yang sama. Akhir-akhir ini dapat dilihat secara faktual, bagaimana kelompok-kelompok radikal Wahabi –seperti jaringan al-Qaedah- melakukan aksi teror diberbagai tempat yang tidak jarang kaum muslimin juga –dengan berbagai usia dan gender- sebagai korbannya.

17 Responses to "Wahabi Indonesia"

  1. kalian orang yang menyimpang dari ajaran rosul saw, malah menuduh kami dengan tuduhan tuduhan keji, lihat saja faktanya ibadah kalian penuh dengan bid'ah yg berbeda dengan nabi saw, kami hanya berusaha mencontoh nabi saw dalam segala hal, dituduh sesat, semoga allah membalas perbuatan kalian di dunia dan akhirat

    ReplyDelete
  2. saudara anonim !
    kenapa anda bisa mengatakan kami ini menyimpang dari ajaran rasul SAW?
    dengar dari mana ?
    ibadah mana yang bid'ah ? dan bid'ah itu apa ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. kepada anda anda yang tidak terima dakwah salafi ini.kenapa kalian hanya membuat tuduhan saja tanpa meneliti dakwah yang di emban oleh muhammad bin abdul wahab.sedangkan kami mempelajari tauhid lebih dahulu sebagaimana dakwahnya seluruh para nabi dan rosul.demikian juga apa yang telah di ajarkan oleh muhammad bin abdulwahab.
      kenapa kalian tidak melihat kitab2 yang telah ia tulis dan kalian hanya mengikuti kata2 kebanyakan manusia tanpa melakukan penelitian ilmiah terlebih dahulu.
      dan adapun ciri2 dzohir kami yang memakai gamis,celana di atas matakaki,berjanggut dll yang telah disebut di artikel diatas.tidakkah kalian tahu bawha itu semua adalah sunnah nabi sholollahu 'alaihisalam.
      demi Allah peringatan itu hanya berguna bagi orang yang beriman kepada Allah Ta'alla saja dan yaumil ahkir.dn peringatan itu tidak terjadi melankan di dunia saja.
      maka salafi membesihkan ajaran islam terlebih dahulu sebelum orang2 di luar islam.
      oleh karena itu renungkanlah ucapan2 kalian dan berpikir dengan jernih dan lubuk hati kalian yang menginginkan kebenaran..

      semoga Allah memberikan hidayahnya kepada kita dan kalian semua.

      Delete
    2. Kami berkata seperti di atas itulah karena telah melihat kitabnya yang penuh kebohongan dan penipuan.
      Kenapa kalian memaksa kami untuk mendengar perkataannya dan melarang mendengarkan perkataan ulama yang telah diakui ketaatan dan barakahnya.
      Dakwah nabi dan rasul ?
      jika "nabi" yang kalian maksud Muhammad bin andul wahab, ya.
      tapi nabi akhir zaman, Muhammad bin abdullah tidak berdakwah seperti dakwah kalian.
      coba tunjukkan dalil kebenaran kalian, mungkin ada sepenggal peninggalan dari panutan kalian yang bisa kalian lemparkan di sini. Kami mau lihat.

      Delete
  3. Replies
    1. wahabi itu licik, membunuh ulama dan para habib keturunan Rasulullah saw.
      dan celakanya mereka mendakwakan dirinya sebagai firqah pemurni sunnah.
      bagi saya mereka lebih cocok disebut pembasmi sunnah, pewaris dan keturunan Rasulullah saw.
      Mereka tidak membolehkan kami bertaqlid kepada para imam, pewaris nabi. Namun di sisi lain mereka bertaqlid buta kepada ibnu taimiyah.

      Delete
  4. Ciri2 SyiaH:
    1. Berkeyakinan Tuhan Ada Dimana2.
    2. Taqlid (Mengkultuskan) Kiai
    3. Berdoa Untuk Keperluan Pribadi Di Kuburan.
    4. Fanatik Organisasi. Jika Islam dihina diam, Kalau Kiai/Ajarannya dihina marah.

    BY: gusDurAJJAL

    ReplyDelete
    Replies
    1. wahai orang.. tidak kau melihat dengan jernih Nabi Muhammad SAW dihina di EROPA kamu dan kelompokmu hanya diam membisu dasar salafy slepy pembdusta

      Delete
  5. setuju dengan anonim di atas saya.
    bila ada orang yang mengaku Islam ketika Islam dihina ia diam, tapi kyia nya di protes/ organisasinya di protes sedikit saja langsung marah2 atau emosi.
    Maka perlu di pertanyakan kecintaannya terhadap Islam.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Orang yang membunuh ulama, menjadi antek yahudi dan pencaci ulama tidak perlu dipertanyakan lagi kecintaannya. Yang perlu dipertanyakan adalah keislamannya.

      Delete
  6. intinya jangan saling mengkafirkan, membidahkan kelompok lain. yang melakukan itu sudah memecah belah kaum muslimin..umat islam adalah umat yang satu janganlah memecah belah umat..jika kalian merasa benar sendiri sesungguhnya kalian sudah sesat..anjuran saya janganlah suka menamakan diri atau kelompok seperti salafi, wahabi, sufi, syiah, hti, ikhwan muslimin dll..gunakan nama muslim sebagai kelompok kita dengan demikian kita akan menjadi umat yang satu dan kuat...berikan nasehat dan kritik yang ditujukan pada perbuatannya jangan ditujukan kepada kelompok...gitu aja repot.

    ReplyDelete
  7. KENAPA KITA HANYA BISA CACI MENCACI SAJA, SEMENTARA KITA TAHU PARA MUSUSH ALLAH BERSORAK KESENANGAN MELIHAT KITA TERUS SALING MELUKAI... SEMENTARA KITA TAHU RASULULLAH SAW PUN MENANGIS MELIHAT; KEBIASAAN KITA INI..

    ReplyDelete
  8. Umat Islam itu bagaikan satu tubuh, tapi celakanya dalam tubuh itu ada duri dalam daging yang sudah sangat lama mengendap, hampir-hampir membusukkan seluruh bagian tubuh yang sehat lainnya.
    Jika duri ini tidak cepat-cepat dienyahkan, takutnya nanti tidak sempat, tubuh itu keburu mati.
    Semua orang tahu, musuh dalam selimut beribu kali lipat bahaya ketimbang musuh yang nyata.

    ReplyDelete
  9. TERIMA KASIH, ASWAJA!

    Dahulu, Al-Arify pernah berkata di depan umat manusia, "Terima kasih, Bush!" Kau akan bertanya-tanya, "Aduhai...gerangan mengapakah kau berterima kasih pada penjahat semacamnya? Sudah habiskah insan berbudi di bumi hingga kau berterima kasih pada penjahat ini?"

    Tahulah kemudian alasannya, bahwa Bush telah berandil tinggi akan tersohornya Islam di hati-hati hari-hari kemudian. Bush betapa inginnya Islam terjatuh, selagi meredup cahaya dipunya. Namun, rupanya Islam membangkit dan semakin bersinar cahayanya.


    Jika Al-Arify begitu tega berterima kasih, Al-Jaizy pun ingin berterima kasih pada saudara-saudaranya dari kalangan Aswaja. Aswaja, selalunya, sedianya, sememangnya, sebenarnya atau mungkin selamanya mempromosikan Salafy. Aswaja rela merendahkan diri sendiri dengan mencaci-caci, demi tersohornya Salafy. Aswaja rela mensohorkan nama 'Wahabi', demi tersiarnya Salafy. Bahkan sebagian grassroot hingga tetuanya rela berdusta, demi terkenalnya Salafy.

    Aswaja telah sukses mempromosikan dakwah Salafiyyah. Aswaja tahu, saudara-saudaranya dari kalangan Salafy punya kesalahan. Demi memperkenalkan Salafy pada umat, Aswaja pun rela meneliti, mengintai dan membocorkan kesalahan dan aib saudara-saudaranya dari kalangan Salafy di tengah umat. Terima kasih, Aswaja.

    Aswaja, yang merupakan senior di negeri ini, begitu perhatian pada Salafy, yang belum lama tumbuh namun sudah menjamur kemana-mana. Saking perhatiannya pada Salafy, Aswaja kesampingkan bayangan gurita Syi'ah, yang mulai merasuk ke mereka. Sungguh, betapa cintanya Aswaja pada Salafy. Wahai, saudara-saudara Salafy, sayangilah mereka pula! Merekalah yang membuatmu dan golonganmu terkenal.

    Jika para petinggi Aswaja rela ceramah panas-panas demi mempromosikan Salafy, pun berlaku pada orang-orang kecilnya. Merasa sudah ngaji lama, anak-anak Aswaja menasihati anak-anak Salafy agar selalu mengaji pada guru. 'Jika seseorang tidak ngaji pada guru, maka gurunya adalah setan,' begitu kiranya bait pamungkas mereka, yang asalnya adalah milik Al-Bustamy, seorang penguasa fakultas sufi jurusan tarekat. Ketika para Salafy sibuk belajar sambil copas, mereka menasihati agar jangan hanya bisa copas. Ketika para Salafy mengambil faedah dari kitab-kitab ulama, mereka menasehati agar berhati-hati karena sekarang banyak kitab dipalsukan. Ketika para Salafy undur diri dari dzikir bersama, tahlilan dan sebagainya, mereka menasihati agar rajin-rajinlah beribadah.

    Apa lagi bukti cinta Aswaja terhadap Salafy? Apa lagi?

    Ketika kaum Salafy memprakarsai Maktabah Syamilah, berisikan puluhan ribu kitab-kitab ulama, Aswaja mewanti-wanti. 'Hati-hati kalian, ebook Syamilah bisa diedit dan dipalsukan,' kata mereka dengan bijaknya. Saking bijaknya, ulama dan pelajar mereka pun meraup manfaat dari kehadiran Maktabah Syamilah. Saking ingin mencari kebenaran, sebagian dari Aswaja meneliti kitab-kitab Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qayyim, dan Muhammad bin Abdul Wahhab, agar jika ditemukan penyimpangan di dalamnya, akan mereka luruskan dengan pemahaman agama mereka, sebagai kaum senior.

    -

    Ya, benar! Saking inginnya mencari kebenaran dan demi ilmu, mereka mengamati kitab-kitab yang biasa dikaji kaum Salafy. Jika ada yang salah, diluruskan. Jika sesuai dengan keyakinan mereka, disebarkan dengan cara copas, dari Maktabah Syamilah. Mereka begitu baik. Mereka membaca banyak dan copas faedah dari Syamilah sembari melarang orang melakukan seperti apa yang mereka lakukan. Minimal, mereka akan mengatakan, 'Waspadai Syamilah!' tanpa pelarangan mutlak.

    Karena itulah, mereka bisa menghibur manusia dengan humor-humor yang mereka ciptakan sendiri. Inilah humor yang bagus nan menghibur: [http://mazzulfa.wordpress.com/2012/08/18/awas-ternyata-maktabah-syamilah-buatan-wahabi/]

    ReplyDelete
  10. TERIMA KASIH ASWAJA

    Aswaja begitu inginnya memurnikan dakwah Islam dari 'Wahabisme'. Mereka pun memperingatkan kaum muslimin, terutama mereka sendiri dari kitab-kitab Wahabisme di Syamilah. Ini ditujukan agar kaum muslimin tidak terperosok ke 'jurang' Wahabisme dan tetap teguh di jalur Ahlus Sunnah wal Jama'ah (singkatan: Aswaja): [http://suaraaswaja.com/maktabah-syamilah.html]

    Padahal, Syamilah ini sudah terlalu indah untuk dikritik dan terlalu bermanfaat untuk didiskreditkan eksistensinya. Mulai dari Ahlus Sunnah wal Jama'ah hingga Ahlul Bid'ah wal Hizbiyyah, mereka semua sama-sama berenang dalam berkah Syamilah.

    -

    Akhir-akhir ini, program 'Islami' bernama Khazanah di salah satu kanal televisi nasional menjadi topik hangat. Aswaja menginginkan agar kaum muslimin tidak menonton acara tersebut. Aswaja berkata, 'Acara tersebut menipu umat!'. Padahal program Khazanah justru mempromosikan ritual-ritual yang jamak dilakukan sebagian besar dari Aswaja. Sayang sekali, acara Khazanah justru bukti faktual dan aktual yang menunjukkan bahwa Salafy ingin membalas cinta Aswaja. Salafy ingin mengungkapkan perasaan cintanya pada Aswaja dengan cara modern. Tetapi, Aswaja kurang berkenan. Sayang sekali.

    Aswaja sudah berjasa besar terhadap umat Islam di negeri ini. Salah satunya adalah dengan rutin mempromosikan Salafy, baik ke orang alim atau ke orang awam. Saking berjasanya, seolah-olah Islam di negeri ini hanyalah Aswaja semata. Jika tidak sewarna, tidak sebentuk, dan tidak sepemikiran, maka ia sesat. Dan sepertinya di dunia ini, di mata saudara-saudara Aswaja, yang sesat hanya satu, yaitu Wahabi.

    Semangat kaum Aswaja layak dicontoh. Dicontoh semangatnya. Mereka bersemangat dalam menggalang persatuan kelompok, begitu memurnikan pencitraan dan sangat waspada terhadap serangan Wahabi. Padahal Wahabi tidak pernah berharap bisa membakar rumah-rumah Aswaja. Padahal Wahabi ketika ceramah tidak ingin membakar jenggot Aswaja. Bagaimana mau membakar jenggot, jika punya saja tidak? Wahabi tidak suka main bakar-bakaran; meskipun sebagian Aswaja merasa diancam pembakaran. Padahal yang terbakar adalah rokok mereka. Dan yang membakar adalah mereka sendiri. Bagaimana ini?

    Harapan kita bahwa kelak Salafy dan Aswaja akur. Karena jika mau ditinjau-tinjau, keduanyalah kaum muslimin pengikut Nabi Muhammad dan generasi salaf. Salafy = pengikut Salaf. Aswaja = Ahlus Sunnah wal Jama'ah = pengikut salaf. Bedanya, yang satu seringkali memang benar-benar mencerminkan Salafiyyah, sedangkan satunya lagi cuma setawar nama saja. Disingkat pula. Ehm.

    Bagaimana caranya akur?

    Kembali ke Al-Qur'an dan Sunnah Rasul.

    Bukan sedikit-sedikit kembali ke emosi...sedikit-sedikit menjadi suporter fanatik. Sampai Imam Al-Bantany dan Al-Banjary bangkit dari kubur pun takkan jadi. Mustahil. Bukan klaim yang dibutuhkan. Sebagian saudara Salafy, mengklaim paling ittiba' dan menuding siapapun selainnya adalah awam dan muqallid. Tidak sadar bahwa mereka juga kadang bertaqlid. Sebagian saudara Aswaja, menasehati selainnya agar tidak merasa paling benar sembari merasa dirinya dan kelompoknya adalah yang terbenar.

    Sebagian ada yang main tantang menantang. Petantang petenteng menantang adu ilmu Nahwu, Shorof, Balaghoh, Bayan, Hikmah. Manthiq, Ushul Fiqh daaaan seterusnya; sembari bawa ijasah pesantren tradisional yang biasa baca kitab kuning. Andai yang seperti ini mau menengok kemegahan pondok-pondok Salafy modern, yang juga bisa baca kitab dan jauh berkembang, tentu hanya kepada kopi dan rokok mereka terhibur.

    Aswaja, kaum yang tak letihnya memotivasi Salafy untuk selalu mencari ilmu di kitab dan berguru pada guru.

    Ketika Salafy semakin besar dan berkembang...
    Ketika Salafy semakin banyak kajian dan hadirinnya...
    Ketika Salafy semakin berilmu dan mapan...
    maukah teman-teman Aswaja menerima cinta dan persaudaraan dari teman-teman Salafy?

    Terima kasih, Aswaja.

    Kami saudara kalian dan kalian saudara kami.

    ReplyDelete
  11. saya sudah pernah mendengarkan rekaman dialog tokoh NU dan tokoh yang disebut "salafi" ini. kalau tidak salah ada: KH Agil Al-Munawwar dll. dari "salafi" yang bicara salahsatunya Ust Zainal Abidin Syamsudin yang dulunya juga nyantri di Pondok "salaf" di Jawa Timur. saya justeru mendengarkan sebuah dialog yang sangat cair dan bersahabat. penuh kesantunan dan saling memahami. masing-masing pihak (ada beberapa pembicara) memang secara ilmiah mempertanyakan keraguan masing-masing terhadap "perbedaan-perbedaan" yang mereka lihat kemudian dibahas atau dijawab oleh masing-masing pembicara itu. di akhir, moderator menyimpulkan bahwa ternyata "perbedaan-perbedaan" yang seolah-olah runcing itu, ternyata hanya masalah cabang yang memang akibat dari rujukan atau pengambilan/istinbath hukum terhadap suatu masalah. jadi, saya pikir tidak perlu kita memperuncing masalah lewat debat kusir yang tidak ada gunanya. kalaupun ada yang perlu dibahas, maka bahaslah secara ilmiah dengan dalil-dalil dan rujukan yang jelas dan jernih, untuk mencari kebenaran, bukan untuk bertahan mempertahankan pendapat. itu lebih penting. kalau rasulullah tahu kondisi kita yang sekarang ini, pasti beliau akan bersedih....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya, kami paham maksud anda.
      Bahkan ulama ahlussunnah juga berdialog dengan berbagai agama.
      Namun masalah ini berbeda, jika ada orang yang menjagak balap sepeda atau lomba lari, apakah kita harus pakai kereta atau mobil.
      Lagian kami sudah mengajak mereka untuk menampakkan dalil-dalil, supaya bisa dilihat mana yang benar dan siapa yang salah.
      Terimakasih atas perhatian anda.

      Delete